Cita-cita, dream, vision
November 28, 2007
Cita-cita adalah gambaran keinginan bahwa kita nanti akan menjadi seperti apa, mempunyai apa, siapa orang-orang tercinta yang akan mendampingi kita, apa yang akan kita lakukan untuk mereka, punya rumah di mana, pergi kemana, siapa yang akan menjadi kolega kita, dan semua gambaran indah yang kita inginkan di masa yang akan datang. Kumpulan keinginan-keinginan yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah drama situasi diri kita di masa mendatang. Orang barat mnyebutnya sebagai dream.
Makin jelas sebuah mimpi makin mudah membayangkan bagaimana cara meraihnya dan makin mudah pula mimpi itu menjadi kenyataan. Karena begitu jelasnya sebuah mimpi pada diri seseorang, dia bahkan bisa menggambarkan tahap demi tahap bagaimana cara meraih impian tersebut. Setiap tahap disusun dan direncanakan, kapan tahap pertama dicapai dan kapan tahap-tahap berikutnya hingga ahirnya impian itu menjadi kenyataan.
Mimpi yang tergambar dengan jelas itu dalam dunia professional disebut sebagai Vision, dan bagaimana cara meraihnya sering disebut sebagai mission, serta kepastian tahapan-tahapan yang akan dilakukan sering disebut sebagai Strategic Planning.
Cita-cita yang diyakini sepenuh hati bisa melahirkan berbagai potensi kekuatan dari dalam diri. Pola pikir, sikap, keberanian, komitmen, perencanaan, tindakan yang konsisten, kesabaran, keteguhan, adalah potensi yang mendukung kita untuk meraih cita-cita. Semua potensi itu tidak akan keluar kalau kita tidak punya cita-cita.
Cita-cita juga menumbuhkan harapan dan doa. Doa merupakan potensi yang luar biasa untuk meraih cita-cita. Dalam AlQuran disebutkan “Mintalah kepada-Ku(Allah) niscaya Kuperkenan”. Kita tidak pernah berdoa kalau tidak punya kinginan atau cita-cita
Orang-orang sukses punya cita-cita yang jelas.
Setiap manusia punya keinginan, karena keinginan itulah yang menjadi motif dari setiap tindakan. Keinginan bisa jangka pendek atau jangka panjang. Keinginan-keinginan jangka pendek melahirkan tindakan-tindakan spontan, sedangkan keinginan-keinginan jangka panjang melahirkan tindakan-tindakan terrencana. Keinginan-keinginan jangka panjang itu adalah cita-cita.
Orang-orang sukses mempunyai cita-cita yang jelas, aktifitas hidupnya terrencana, ingin menjadi apa lima tahun mendatang, terus apa yang harus dilakukan tahun depan, bulan depan, dan minggu depan. Terlepas dari berhasil atau tidak, berbagai kegiatan dan aktifitas sudah terprogram untuk menuju kepada sebuah tujuan tertentu yang mereka sebut sebagai cita-cita.
Sebaliknya orang kebanyakan cita-citanya kabur atau bahkan tidak punya cita-cita. Hidup bagi mereka mengalir begitu saja tidak tahu harus melakukan apa tahun depan, atau bulan depan. Bahkan yang lebih parah minggu depanpun tidak tahu akan melakukan apa, ini menjadi paradigma sebagian besar dari kita.
Untuk meraih sukses diperlukan keteguhan dan kesabaran.
Untuk meraih sebuah cita-cita orang harus mampu menunggu dalam waktu yang lama, teguh dan sabar menahan diri dari godaan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Teguh dengan cia-citanya meskipun harus menunggu dalam waktu lama. Tidak banyak orang mampu melakukan hal ini, kebanyakan orang tidak sabar, mereka cenderung menginginkan hasil yang instant. Mungkin itu yang menyebabkan mengapa orang yang berhasil hanya sedikit.
Ilustrasi berikut menggambarkan perbedaan perilaku berkaitan dengan kemampuan menahan diri.
Kepada dua orang dibagikan masing-masing Rp.1.000.000,-. Mereka dibiarkan bebas menggunakan uangnya. Ternyata keduanya memiliki cara yang berbeda dalam memperlakukan uangnya. Orang yang pertama langsung membelanjakan berbagai keinginannya yang belum terpenuhi untuk kenikmatan sesaat, dan habislah uangnya. Sedang yang kedua mempertimbangkan prioritas kebutuhan. Dia hanya membeli jika dirasa benar-benar perlu, bahkan dia berpikir bagaimana uang ini bisa dipertahankan dan dikembangkan agar tidak habis. Orang yang kedua ini lebih memiliki kemampuan menunda keinginan dari pada orang yang pertama.
Keberhasilan membutuhkan keteguhan dan kesabaran, kuncinya adalah kemampuan menahan diri dari godaan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Orang kebanyakan seperti kita sering tidak dapat menahan diri melihat godaan-godaan kecil, mereka cenderung memenuhi berbagai kenikmatan sesaat dan tidak berfikir jangka panjang.
Kita akan menjadi seperti apa yang kita cita-citakan.
Andre Wongso, motivator terkenal Indonesia, mengatakan anda bisa menjadi seperti apa yang anda inginkan. Tuhan berfirman dalam hadis Qudsi “Aku seperti apa prasangka hambaku”. Maksudnya kalau kita berprasangka bahwa Tuhan akan menjadikan kita orang yang berhasil, maka oleh Tuhan kita akan dijadikan berhasil.
Ketika kita menginginkan sesuatu dengan keinginan yang kuat dan dengan keyakinan, maka otak kita akan berusaha mencari solusi-solusi bagaimana cara memperolehnya. Demikian pula jika kita mencita-citakan sesuatu maka otak kita akan berusaha mencari solusi-solusi bagaimana cara mencapainya. Di bawah ini adalah sebuah ilustrasi berkaitan dengan keinginan yang kuat.
Sepasang suami istri pulang dari perjalanan jauh dan mereka sangat haus, sesampai di dalam rumah sang suami langsung buka kulkas, dan membayangkan betapa nikmat dia minum pepsi yang dingin dari dalam kulkas. Kemudian mencari pembuka botol ternyata tidak ditemukan. Dicarilah cara lain, dicungkilnya tutup botol tersebut dengan sudut pinggiran tembok dapur, ternyata malah teboknya yang cuil dan botol tidak berhasil terbuka. Dicobanya lagi dengan ujung pisau, tidak berhasil, masih tidak putus asa lalu mencari gunting untuk melubanginya. Apapun diupayakan caranya untuk membuka botol tersebut, namun guntingpun tidak ditemukan, ahirnya pakupun boleh. Dengan batu dan paku dia bisa menikmati pepsi seperti yang dicita-citakan.
Istrinya juga penggemar pepsi, namun melihat perjuangan suaminya ia mengatakan “ah… bukan pepsi juga nggak apa-apa, air juga cukup nikmat untuk menghalau dahaga”. Istrinya ini punya pilihan lain, baginya air sudah cukup, tidak harus berjuang demikian berat untuk membuka botol.
Dalam bercita-cita, kita diberi banyak pilihan, boleh memilih untuk menjadi kaya, menjadi orang berilmu, menjadi terkenal, bermanfaat untuk orang banyak, atau ingin menjadi orang biasa saja. Cita-cita adalah sebuah pilihan jalan hidup, dan insya Allah kita akan menjadi seperti apa yang kita cita-citakan.
Masalahnya adalah, banyak orang tidak punya cita-cita. Jika tidak punya cita-cita, hidup kita tidak ada yang berubah, kecuali menjadi tua, sakit dan mati tanpa pernah ada yang mencatat keberadaan kita di dunia.
Beranilah bercita-cita dan kemudian serahkan kepada Allah, yakinlah kepadaNya, karena Allah telah berfirman “…siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan siapa yang mengikuti perintahnya niscaya selalu dibukakan jalan keluar”. Dalam ayat yang lain disebutkan “barang siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya”.
Allahu a’lam.
Entry Filed under: Motivation Sharing. .
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed